Writen by
Mama Anime
14.52.00
-
0
Comments
Tim yang dipimpin, Leader Economist GPVDR, Vivi Alatas mengatakan meski pertumbuhan ekonomi berkelanjutan selama 15 tahun di Indonesia telah membantu mengurangi kemiskinan dan menciptakan kelas menengah yang berkembang, tapi ketimpangan tersebut belum dinikmati secara merata oleh warga Indonesia.
"Dalam pertumbuhan selama satu dasawarsa terakhir hanya menguntungkan 20 persen warga terkaya, sementara 80 persen populasi sisanya sekira 205 juta orang masih tertinggal di belakang. Artinya, meningkatnya kesenjangan standar hidup dan semakin terpusatnya kekayaan di tangan segelintir orang," jelas Vivi kepada 99 Domino Poker, dalam acara Akhiri Ketimpangan untuk Indonesia (AKU Indonesia) di Djakarta Theatre, Jakarta, Selasa (8/12/2015).
Jika dibandingkan dari sebagian negara tetangga di Asia Timur, tingkat ketimpangan Indonesia relatif lebih tinggi dan naik lebih cepat. Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan konkret untuk mengatasi ketimpangan yang menimbulkan ketidakadilan.
Dirinya menambahkan, saat ini, kebanyakan warga Indonesia kini menyadari isu ini dan meyakini bahwa pemerintah harus mengambil tindakan.
"Karena hal ini juga memperlambat pertumbuhan ekonomi dan upaya pengentasan kemiskinan serta meningkatkan risiko konflik," terangnnya.
Sementara itu, Vivi menjelaskan, ketimpangan dalam taraf tertentu dapat menjadi hal positif, karena mereka yang bekerja keras, berinovasi dan mengambil risiko mendapat imbalan atas usahanya.
Namun, ketimpangan pendapatan menjadi tidak adil ketika tidak semua orang memiliki peluang awal yang sama.
"Ketimpangan yang tidak ditanggapi dan dibiarkan berkembang dapat menimbulkan akibat serius, yakni pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan yang lebih lambat serta peningkatan risiko konflik," tandasnya.




Tidak ada komentar
Posting Komentar