Latest News

Rabu, 17 Agustus 2016

Ganjaran Penghargaan bagi Pahlawan Perempuan


Situs Judi Poker -Rien Sutirin (86) duduk dengan tegap di kursi berukuran sekira 1 meter. Posisi duduknya yang kuat, membuat ia tak terlihat berusia hampir seabad. Sambil membuka-buka berkas piagam penghargaan yang ia terima, ingatan nenek 14 cucu itu tertuju pada 1946.

Meski tak ingat tanggal dan bulannya secara persis, ia sadar bahwa masa mudanya pernah memanggul senjata saat bumi Priangan memanas usai insiden Bandung Lautan Api.

"Waktu itu, kita baru duduk, ada bom. Kuda mati semua, ditembak dari atas. Kita jalan kaki, tanpa sepatu.


Bahkan, Rien masih ingat betul nama komandan serta rekan prajurit yang bertugas bersamanya untuk mengirimkan logistik bagi para Laskar Pemuda. Kala itu, ibu lima anak itu memang diberangkatkan dari Yogyakarta untuk memasok kebutuhan logistik bagi para pejuang yang berada di wilayah perbatasan Bandung.

"Majalaya di bom, itu markasnya ibu-ibu Laskar Wanita, isinya logistik, di bom. Ibu Fatimah, komandan pasukan, saya sendiri komandan regu. Lalu Siti Murwani dari Majalengka, Atika, sama Ika. Masih gadis semua. Sebulan tempur di Majalaya," sambungnya.

Selama pertempuran, Rien dan rekannya yang masih gadis harus makan seadanya. Hingga akhirnya ia diminta pulang ke Yogyakarta lantaran kedua orangtuanya khawatir.


"Saya disuruh pulang sama ibu saya, tapi saya ingin ikut (berjuang) lagi. Sempat sembunyi juga malah," kenang Rien sembari tersenyum saat mengingat kenakalannya di waktu muda.

Namun, niat baik Rien bersambut. Di waktu bersamaan, para prajurit Laskar Wanita yang pulang ke Yogyakarta, membentuk organisasi Wanita Pembantu Perjuangan (WaPP). Organisasi tersebut nantinya berubah menjadi Wirawati Catur Panca yang memiliki kantor di Gedung Joeang, Menteng, Jakarta Pusat.

"Disuruh pulang sama ibu, jadi Wanita Pembantu Perjuangan (WaPP). Lalu Wirawati Catur Panca," imbuhnya.


Penghargaan dari Soekarno hingga Soeharto 

Usai menikah dengan Kolonel Kusno, Rien muda akhirnya memutuskan untuk berhenti dari Laskar Wanita. Rumah tangganya pun semakin lengkap usai ia dikaruniai empat putra dan satu putri.

"Anak lima, cewek satu, cowok empat. Cucu 14. Berhenti dari Laskar 1950 menikah dengan Kolonel Kusno. Sekarang sudah almarhum," ujar Rien sambil membolak-balikan piagamnya.

Atas jasanya melawan sekutu, Rien diganjar sejumlah piagam penghargaan. Pada 17 Agustus 1958 misalnya, ia memperoleh penghargaan khusus dari Menteri Pertahanan (Menhan) Ir Juanda. Selain itu, pada 10 November 1958, Presiden Soekarno juga tak ketinggalan untuk memberinya tanda jasa pahlawan. Saat ini, sebagai wanita veteran (Wanvet), negara memberi Rien Rp3,2 juta per bulan.

"(Pada) 10 November 1967, dapat Setya lencana Penegakan dari Presiden Soeharto," kenangnya bangga.

Jelang HUT ke-71 RI, Rien mengimbau agar generasi muda tak seperti Malin Kundang. Terlebih menurutnya, sejarah perlu dipelajari sebagai bakal ke depan.

"Sebagai generasi penerus jangan lupa sama pejuang 46. Jangan jadi Malin Kundang," tandasnya.

« PREV
NEXT »

Tidak ada komentar

Posting Komentar