Writen by
Mama Anime
23.26.00
-
0
Comments
Poker Online Terpercaya - AbriandikaPratama mengaku tidak mengalami kendala berarti saat harus puasa di Jepang. Mahasiswa jurusan Marine Enviromental Protection konsentrasi Underwater Archaeology di Tokyo University Of Marine Science an Technology itu tetap nyaman menjalankan ibadah di bulan Ramadan tersebut.
Hanya saja, Dika, sapaan akrabnya, punya satu kesulitan untuk puasa perdananya di Negeri Sakura. Pemuda 29 itu sulit menjaga pandangan matanya karena wanita muda jepang sering menggunakan pakaian mini.
"Misalnya yang muda terutama pelajar banyak pakai rok yang tidak sesuai standar. Jadi saya kalau ketemu ya pura-pura nggak lihat biar bisa jaga pandangan," tulis Dika saat dibincangi Bangka Pos melalui aplikasi Line beberapa waktu lalu.
Di Jepang, Dika menjalankan puasa selama kurang lebih 16 jam. Saat ini Jepang sedang musim panas.
"Rindu masakan Bangka di sini nggak ada kolak, cincau. Belum pernah masak makanan Bangka karena gak banyak bumbunya disini meski mudah menemukan bahan baku seperti cumi, kerang, kepiting tapi orang Jepang cenderung makan dengan masakan yang minim bumbu, tapi kalau makanan halal nggak sulit untuk didapatkan bisa dibeli di Halal Food," cerita pria yang juga bekerja paruh waktu di Kintan Restaurant.
Ia mengatakan dirinya kerap memasak untuk menu berbuka maupun sahur. Ia yang menjalani aktivitas yang padat saat puasa memilih untuk mengkonsumsi makanan sehat dan selalu menyempatkan diri untuk istirahat siang minimal satu jam setia harinya.
"Kalau sahur menu-menu sederhana kayak goreng ikan, bikin tempura, sop jamur, tumis sayur, rendang domba/biri-biri/sapi atau masak ayam. Kalau buka biasanya masak salmon bakar, sop jamur minum air putih yang banyak dan perbanyak makan buah seperti anggur, apel. Satu lagi minum teh karena disini kan banyak teh hijau," ceritanya.
Soal beribadah ke masjid, Dika mengaku tak bisa melaksanakannya. Di Jepang, masjid masih sangat jarang. Selain itu, Dika memiliki rutinitas pekerjaan saat malam hari. Karenanya, dia baru bisa tarawih setelah pekerjaannya selesai.
"Di sini masjid sangat jauh, dan hanya ada beberapa saja. Masjid pemerintah Indonesia sedang tahap pembangunan. Di Tokyo ada beberapa masjid kecil dan besar, yang umumnya sering di kunjungi seperti Masjid Cami milik pemerintah Turki dan Masjid Assalam yang didirikan oleh masyarakat Pakistan," ceritanya.
Lebih lanjut, Dika menyebut dirinya beberapa kali diajak makan oleh teman-temannya yang orang Jepang, namun ia menolak dengan mengatakan dirinya sedang berpuasa tak jarang ia mendapat respon yang berbeda-beda dari teman-temannya itu.
"Teman-teman saya yang terutama orang jepang kadang sangat kaget ketika mereka mengajak atau menawarkan makanan atau juga minuman saya bilang, Watashi wa Ramadhan. Asa-Gohan to hiru-gohan o Tabemasen Nomimasen (Saya sedang Ramadan, tidak makan dan tidak minum). Biasanya mereka akan sangat terkejut, bisa tahan lama seharian tidak makan dan tidak minum. Dan kadang expresinya juga terkagum-kagum," ceritanya.
Dika akan merayakan Idul Fitri di Negara Sakura karena ia mengumpulkan uang untuk penelitiannya di Provinsi Kepualauan Bangka Belitung. Ia berharap dukungan dari pemerintah untuk mempermudah penelitiannya tersebut.
"Nggak pulang lebaran, lagi ngumpulin biaya buat thesis/peneitian di Indonesia dan lagi persiapan izin dan mudah-mudahan Provinsi Babel mempermudah karena rencana penelitain bakal di perairan babel dan tetap konsentrasi mengenai Belitug Shipwreck (Kapal karam Belitung-Red).





Tidak ada komentar
Posting Komentar